Perataan Laba

Perataan Laba (Income Smoothing)

Oleh: Harry Andrian Simbolon SE., M.Ak., QIA

Laporan keuangan merupakan sarana utama untuk mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihak di luar perusahaan. Laporan keuangan memberikan informasi mengenai sumber daya perusahaan dan klaim terhadap sumber daya itu serta perubahan dalam sumber daya tersebut yang berguna bagi pengambilan keputusan investasi dan kredit serta mengukur prospek arus kas (Kieso dan Weygandt, 2001). Untuk itu informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut harus dapat dipahami, relevan, andal, dan dapat diperbandingkan serta menggambarkan kondisi perusahaan pada masa lalu dan proyeksi masa datang.

ada kecendrungan para pemakai laporan keuangan untuk lebih memperhatikan laba yang terdapat pada laporan laba-rugi seperti yang dikemukakan oleh banyak peneliti diantaranya Ball and Brown, 1968; Beaver et al, 1968; Ohlson and Ahroff, 1992 dalam Jurnal Riset Akuntansi Indonesia (JRAI) 1998 yang ditulis Liaw She Jin dalam Ariyani (2004). Selain itu manajer juga dinilai kinerjanya berdasarkan atas informasi tersebut, sehingga hal ini memacu timbulnya perilaku yang tidak sesuai (dysfunctional behavior). Perilaku yang tidak sesuai tersebut digunakan oleh para manajer untuk memanipulasi laba guna meningkatkan kinerja perusahaan (Ji dan Machfoedz, 1998).

Deteksi atas kemungkinan dilakukannya manipulasi laba atau yang disebut juga dengan manajemen laba (earning management) dalam laporan keuangan diteliti melalui penggunaan akrual. Jumlah akrual yang tercermin dalam penghitungan laba terdiri dari discretionary dan nodiscretionary. Transaksi nodiscretionary merupakan transaski yang dicatat dengan menggunakan satu prosedur dan apabila prosedur tersebut dipilih maka manajemen diharapkan konsisten dalam menggunakan prosedur tersebut. Contoh dari transaksi ini adalah metode penentuan harga pokok persediaan dan metode penyusutan. Sebaliknya transaksi discretionary memberikan kebebasan kepada manajemen menentukan jumlah transaksi akrual secara fleksibel. Contohnya seperti penentuan cadangan kerugian piutang yang berasal dari manajemen laba yang dilakukan manajer.

Diskresi manajerial tersebut dapat meningkatkan kandungan informasi laba karena memungkinkan adanya pengkomunikasian informasi privat. Penggunaan discretionary seperti ini disebut efficient earning management (EEM). Di lain pihak, adannya ketidaksamaan insentif antara manajer dan pemegang saham dapat menyebabkan manajer menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan dalam pernyataan akuntansi yang berlaku umum untuk melakukan earning management secara oportunistik, sehingga menciptakan distorsi dalam laba yang dilaporkan. Hal ini disebut opportunistic earnings management (OEM) (Sylvia dan Yanivi, 2003).

Kebijakan akrual ini oleh manajer perlu diungkapkan dalam laporan keuangan. Pengungkapan (disclosure) dalam laporan keuangan, dalam bentuk catatan atas laporan keuangan digunakan untuk memperkecil gap antara manajemen sebagai penyusun laporan dengan pihak luar yang menggunakan laporan keuangan.

Manajemen Laba dan Perataan Laba

Menurut Scoot (2000) dalam Dewi (2001) Manajemen laba merupakan cara yang digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi angka laba secara sistematis dan sengaja dengan cara memilih kebijakan akuntansi dan prosedur akuntansi tertentu dengan tujuan memaksimalkan utility manajemen dan harga saham. Manajemen laba menjadi suatu hal yang tidak baik dilakukan karena informasi laporan keuangan yang disajikan berkurang reliabilitasnya, sehingga dikuatirkan akan berakibat pada pengambilan keputusan yang keliru.

Manajemen laba mencakup dua bentuk utama yaitu yang pertama manajemen melakukan upaya perataan laba (Income Smoothing) untuk setiap periode dan yang kedua manajemen melakukan upaya peningkatan (Pemaksimalan) atau penurunan (peminimalan) laba dalam suatu periode. Barnea et al (1976) dalam Dwiatmini dan Nurcolis (2001) mendefenisikan perataan laba sebagai pengurangan yang disengaja terhadap fluktuasi pada beberapa level laba supaya dianggap normal bagi perusahaan. Defenisi perataan laba menurut Beildman (1973) adalah suatu usaha yang dilakukan manajemen untuk menekan variasi dalam laba sejauh yang dimungkinkan oleh prinsip akuntansi.

Koch (1981) dalam Hermawan (1998) yang dikutip Ariyani (2004) menyatakan bahwa perataan laba merupakan alat yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi besarnya variabilitas pendapatan atau laba yang dilaporkan untuk tujuan tertentu dengan cara memanipulasi variable artifical (akuntansi) atau variable real (transaksi). Sofyan Syafri dalam bukunya yang berjudul Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan, menyatakan bahwa praktik perataan laba adalah upaya menstabilkan laba dimana tidak banyak variance dari satu periode ke periode lain sehingga dinilai sebagai prestasi baik.

Menurut Hepworth (1953) yang didukung  Ashari, dkk (1994) dan Zuhroh (1996) dalam Jatiningrum (2000), bahwa tindakan perataan laba merupakan tindakan yang logis dan rasional bagi manajer untuk meratakan laba dengan menggunakan cara atau metode akuntansi tertentu, alasannya antara lain pertama, rekayasa untuk mengurangi laba dan menaikkan biaya pada periode berjalan dapat mengurangi hutang pajak. Kedua, tindakan perataan laba dapat meningkatkan kepercayaan investor, karena mendukung kestabilan penghasilan dan kebijakan deviden sesuai dengan keinginan. Ketiga, tindakan perataan laba dapat mempererat hubungan antara manajer dan karyawan, karena dapat mengindari permintaan kenaikan upah/gaji oleh karyawan/pekerja. Dan keempat, tindakan perataan laba memiliki dampak psikologis pada perekonomian, dimana kemajuan dan kemunduran dapat dibandingkan dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat ditekan.

Ditambahkan pula oleh Gordon (1964) dalam Jatiningrum (2000), bahwa perataan laba mempunyai peranan yang penting untuk mengurangi bias dari pemegang saham dalam memperhitungkan laba di masa lalu, yang digunakan untuk memprediksi laba di masa depan. Lebih lanjut, Lambert (1984) dan Dye (1988) dalam Jatiningrum (2000) dalam seting keagenan menyebutkan bahwa manajer yang mempunyai resiko menolak untuk terhindar dari hutang dan pinjaman di dalam pasar modal, memiliki daya dorong untuk melakukan tindakan perataan laba. Pendapat ini didukung oleh Trueman dan Tritman (1998) dalam Jatiningrum (2000) dalam seting market yang berhubungan dengan kreditor, menunjukkan bahwa manajer lebih menyukai alternatif yang menghasilkan aliran kas yang lebih merata.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba

Terdapat banyak faktor yang mungkin menentukan adanya praktik perataan laba. Ilmainir (1993) yang dikutip Kikky (2002) melakukan penelitian faktor-faktor pendorong perataan laba pada perusahaan di Indonesia dengan menggunakan sebanyak 15 sampel perusahaan yang terdaftar di BEJ. Hasilnya menunjukkan bahwa harga saham, perbedaan laba aktual dan laba normal, serta kebijakan akuntansi mengenai laba terbukti sebagai faktor yang mempengaruhi perataan laba.

Moses (1987), Albrecht dan Richardson (1990) dalam Ariyani (2004) membuktikan bahwa ukuran perusahaan, kelompok usaha (sektor industri) menunjukkan adanya asosiasi dengan perataan laba. Tetapi Ashari (1994) Jin dan Machfoedz (1998), dan Priyo (2001) tidak membuktikan bahwa hal-hal tersebut sebagai faktor yang mempengaruhi perataan laba. Ilmainir (1993) seperti yang dikutip Kiky (2002) menunjukkan hasil yang sama yaitu tidak berpengaruhnya ukuran perusahaan terhadap perataan laba. Menurut pendapatnya, perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan perlakuan pemerintah antara negara maju dan negara berkembang.

Sedangkan Archibald (1967), Carlson dan Chenchuramaiah (1997), Ashari (1994) dalam penelitiannya mereka membuktikan salah satu variabel diantaranya profitabilitas perusahaan yang merupakan faktor yang mempengaruhi perataan laba. Tetapi Zuhroh (1996), Jin dan Machfoedz (1998) tidak berhasil membuktikan profitabilitas, mereka hanya membuktikan bahwa leverage operasi adalah sebagai faktor yang berpengaruh terhadap praktik perataan laba yang dilakukan perusahaan di Indonesia. Sedangkan Jatiningrum (2000) mencoba menguji faktor sektor industri sebagai variabel penelitiannya, namun penelitiannya tidak berhasil menunjukkan bukti bahwa sektor industri merupakan faktor pendorong dilakukannya tindakan perataan laba. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Ashari, dkk (1994). Hermawan (1997) dengan sampel perusahaan publik sektor industri manufaktur yang terdaftar di BEJ serta Priyo (2001) dalam penelitiannya dengan 313 sampel perusahaan di ASEAN, membuktikan ukuran perusahaan, dividen payout, debt equity ratio serta nasionalitas perusahaan sebagai faktor-faktor yang tidak mempengaruhi perataan laba. Ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Deefond dan Jiambalvo (1994), Sweeney (1994) yang tidak membuktikan bahwa dividen payout ratio, debt equity ratio sebagai faktor yang mempengaruhi perataan laba.

White (1970), Moses (1987), Beattie (1993), dan Houilthausen (1995) seperti yang dikutip Salmawi dan Bambang Sudibyo (1999) dalam Ariyani (2004) meneliti tentang tujuan yang hendak dicapai dengan melakukan praktik perataan laba. Kikky (2002) melakukan penelitian tentang ada tidaknya perataan laba pada lembaga keuangan non bank dan faktor-faktor yang mempengaruhi perataan laba. Dari hasil penelitiannya tersebut terbukti bahwa ukuran perusahaan mempengaruhi praktik perataan laba, tetapi debt equity ratio serta profitabilitas tidak terbukti mempengaruhi perataan laba.

Pendekatan yang Digunakan Dalam Perataan laba

Albercht dan Richarson (1999) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan dalam studi yang berkaitan dengan perataan laba. Ketiga pendekatan tersebut adalah:

  1. The classical approach. Pendekatan ini digunakan untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang dapat digunakan untuk melakukan penstabilan laba dan pengaruhnya terhadap laba yang dilaporkan.
  2. The income variability approach. Pendekatan ini digunakan untuk membedakan tindakan/perilaku manajemen yang dapat menyebabkan timbulnya penstabilan laba secara artificial dengan peraturan yang bersiat real dan natural.
  3. The dual economy approach. Pendekatan ini dilakukan dengan membandingkan perubahan laba operasi dan laba normal dengan perubahan-perubahan biaya pada perusahaan-perusahaan berdasarkan sektor-sektor tertentu (di Amerika Serikat terdapat 2 sektor yaitu core dan periphery sector). Core sector terdiri dari durabel manufacturing dan industri yang mengolah hasil alam. Peripheri sector terdiri dari industri pertanian, non durable manufacturing, dan industri eceran.

Teknik perataan Laba

Berbagai teknik yang digunakan dalam perataan laba diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi melalui kebijakan manajemen itu sendiri (accrual), misalnya: pengeluaran biaya riset dan pengembangan. Selain itu banyak juga perusahaan yang menerapkan kebijakan diskon dan kredit sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan pada akhir bulan terakhir tiap kuarter, sehingga laba kelihatan stabil pada periode tertentu.
  2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer memiliki kewenangan untuk mengalokasikan pendapatan dan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya, jika penjulan meningkat maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan penelitian serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk mensabilkan laba.
  3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan dan kebijakan sendiri untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam katagori yang berbeda. Misalnya, jika pendapatan operasi sulit untuk didefenisikan maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non operasi. Dalam hal ini dapat digunakan sewaktu-waktu untuk meratakan laba melihat kondisi pendapatan periode itu.

Teknik-teknik itu memang mungkin untuk dilakukan karena Prinsip Akuntasi Berterima Umum (PABU) memberikan berbagai pilihan dalam mencatat berbagai peristiwa keuangan. Manajemen memiliki keleluasan untuk mengganti satu metode ke metode lain. Keleluasan untuk memakai teknik-teknik akuntansi dalam mencatat terbukti telah disalahgunakan oleh manajemen untuk melakukan perataan laba. Bahkan Koch (1981) mensinyalir bahwa perataan laba banyak dilakukan dengan mengunakan teknik-teknik akuntansi yaitu dengan merubah kebijakan akuntansi. (Sopa Sugiarto, 2003)

Koch (1981) Menyatakan bahwa peratan laba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

  1. Artificial smoothing, perataan laba yang mengacu pada prosedur akuntansi yang diimplementasikan dimana manajemen melakukan tindakan untuk mengakui biaya dan atau pendapatan dari satu periode ke periode lain (manipulasi melalui metode akuntansi).
  2. Real smoothing, Perataan laba yang mengacu pada transaksi aktual yang dilakukan oleh entitas dimana manajemen mempunyai kendali terhadap transaksi yang akan mempengaruhi laba di masa depan (manipulasi melalui transaski).

Sasaran Praktik Perataan Laba

Adapun yang dapat dijadikan sebagi sasaran praktik peratan laba adalah aktivitas-aktivitas yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi aliran data atau informasi. Untuk menciptakan laporan keuangan yang sesuai dengan keinginan manajemen, manejer dapat memasukkan informasi yang akan datang kedalam laporan periode ini atau sebaliknya (Priyo, 2001 dalam Ariyani, 2004).

Seperti yang dikutip dari Jin dan Machfoedz (1998) instrumen yang dapat digunakan dalam perataan laba antara lain adalah pendapatan, deviden, perubahan dalam kebijakan akuntansi, biaya pensiun, pos luar biasa, kredit pajak investasi, depresiasi dan biaya tetap, perubahan mata uang, klasifikasi akuntansi dan pencadangan.

Foster (1986) mengklasifiksikan unsur-unsur laporan keuangan yang dijadikan dalam praktik perataan laba, yaitu;

  1. Unsur Penjualan
    1. Saat pembuatan faktur. Misalnya: penjualan yang sebenarnya untuk periode yang akan datang pembuatan fakturnya dilakukan pada periode ini dan dilaporkan sebagai penjualan periode ini.
    2. Pembuatan pesanan atau penjulan fiktif.
    3. Downgrading (penurunan) produk. Misalnya dengan cara mengklasifikasikan produk yang belum rusak kedalam kelompok produk yang rusak dan selanjutnya dilaporkan telah terjual dengan harga yang lebih rendah dari harga yang sebenarnya.
  2. Unsur Biaya
    1. Memecah faktur. Misalnya faktur untuk sebuah pembelian/pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian/pesanan dan selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dengan tanggal berbeda kemudian dilaporkan dalam beberapa periode akuntansi.
    2. Mencatat prepayment (biaya dibayar dimuka) sebagai biaya. Misalnya melaporkan biaya advertensi dibayar dimuka untuk tahun depan sebagai biaya advertensi tahun ini.
Advertisements

About akuntansibisnis
Me

56 Responses to Perataan Laba

  1. yeni says:

    artikel nya bagus banget niy,,,
    bole minta referensi buku mengenai perataan laba gag? soalnya susah banget nyari buku ttg perataan laba…
    tolong informasinya yaa,,,
    thanks be4,, :))

  2. abu abdillah says:

    izin download ya.. thx.

  3. novi says:

    selamat pagi pak.
    boleh minta referensi buku mengenai perataan laba?
    karena dosen saya mau nya teori mengenai faktor-faktor perataan laba dari buku. Yang saya tau hanya ada di buku teori akuntansi, namun isinya sedikit dan hanya menjelaskan secara umum perataan laba. terima kasih.

    • topik perataan laba sangat familiar di dalam jurnal-jurnak akuntansi tahun 90-an sampai awal 2000-an. Meski sampai sekarang masih banyak penelitian tentang topik ini, tetapi referensinya tetap penelitian ulang tersebut. coba saja kamu searching jurnal-jurnal di tahun tersebut.

      Regards,

  4. ria says:

    kurang tau cara perhitungan perataan laba ,, sulit sekali,, kira2 ad yg tau cara menghitungnya?

  5. boleh minta kontaknya pak untuk bertanya?

  6. anah says:

    ada yang tahu buku yang ada rumus perataan labanya judu buku dan nama pengarangnya siapa ya?? plis aku susah banget nyari buku yg ada rumus perataan labanya

  7. mega says:

    pak bagaimana sih cara hitung pengukuran perataan laba yg benar dengan indeks eckel….saya kesulitan menghitungnya liat di refrensi angka hitungnya gk bisa sama

    • Begini caranya mbak
      Indeks Perataan laba = (CVΔI/CVΔS)

      Keterangan:
      ΔI = Perubahan laba dalam suatu periode
      ΔS = Perubahan pendapatan dalam suatu periode
      CV = Koefisien variasi dari variabel. Yaitu standar deviasi dibagi
      dengan nilai yang diharapkan
      CVΔI = Koefisien variasi untuk perubahan laba
      CVΔS = Koefisien variasi untuk perubahan Pendapatan

      Yang mana CVΔI dan CVΔS dapat dihitung sebagai berikut:
      CVΔI dan CVΔS = √ Variance / Expected value atau

      √ E(ΔI – ΔX)2 /n-1 / ΔX

      Keterangan:
      ΔX = Perubahan laba (I) atau perubahan pendapatan (S) antara tahun ke n-1 ke tahun ke n
      n = Banyaknya tahun yang diamati

      Semoga jelas ya

      • maula says:

        assalamu’alaikum war.wab…artikel yang sangat menarik..saya kesulitan menghitung dg indeks eckel. saat ini tesis saya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi income smoothing dan dampaknya terhadap expectasi kinerja keuangan dimasa depan. variabel independent yang saya gunakan (profitabilitas, NPM, ROA, dan leverage), variabel interveningnya dalah Income smoothing dan Variabel dependent nya adalah ekspektasi kinerja keuangan dengan menggunakan expected earning.pertanyaan saya
        1. untuk di bank syariah CVΔS saya menggunakan data apa?saat ini saya menggunakan Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ataukah pendapatan operasional yang tidak perlu dikurangai?
        2. tahapan yang saya lakukan ini apa sudah benar: 1) penjualan tahun 1, tahun 2, tahun 3, tahun 4, tahun 5, 2) perubahan penjualan tahun ke 2 dikurangi tahun ke 1, tahun ke3 dikurangi tahun ke 2 dan seterusnya kemudian dirata-rata, 3) menghitung selisih dengan menggunakan rata-rata perubahan penjualan tersebut dikurangi dengan perubahan penjualan ditahun pertama t2-t1, 4) selisih tersebut dikuadratkan 5) selisih tersebut di total kemudian dihitung dengan SQRT(V5/4)/M5, (v5 = total selisih setelah dikuadratkan, M5= rata-rata perubahan penjualan. Tahapan yang sama dilakukan untuk laba nya kemudian CVΔS/ CVΔI. bagaimanana jika hasilnya saya rasio kan?sy masih kesulitan sekali disini. Mohon bantuan untuk share ini. Semoga menjadi ladang amal bagi kita semua.

  8. mega says:

    nah sebelumnya juha saya paki cara itu pak, namun ketika say coba hitung menggunakan data orang lain hasilnya gk sama…
    oh yak pak maksudnya n jumlah pengamatan yg dilakukan misalnya periode saya kan 2012-2014 jd 3 tahu.
    sedangkan kalo mau menghitung perubahaan penjualan atau income kita memerlukan data 2 tahun lagi kan pak…nah saya agak bingung n disitu bagaimana.
    mohon penjelasnnya pak terimakasih

  9. Pak Apa itu indeks Eckel? kok saya gk ngerti ya

  10. andimas herlambang says:

    pak, mengapa hasil dari perhitungan indeks eckel harus menggunakan dummy? nah, saya ditanya dosen saya dasar penggunaan dummy tersebut apa? konversi dari hasil perhitungan indeks eckel ke dummy tersebut dasarnya dari mana? karena saya lihat memang dari jurnal2 terdahulu semuanya menggunakan indeks eckel kemudian hasilnya menjadi dummy tanpa ada penjelasan lebih lanjut. mohon respon pak terima kasih

    • Mas Andi,
      Saya kurang mengerti apa yg diaksud engan dummy. Seharusnya Hasil perhitungan indeks eckel apabila nilai indeks Eckel lebih besar dari 1 (satu) maka perusahaan tidak melakukan perataan laba, tetapi apabila indeks Eckel lebih kecil dari 1 (satu), maka perusahaan tersebut melakukan perataan laba.

  11. malik says:

    saya menggunakan penjualan bersih dan laba bersih.

    bagaimana saya menggunakan indeks eckelnya ?
    mohon jawabannya

  12. kristina says:

    selamat malam pak,
    saya mau bertanya adakah bapak artikel mengenai indeks eckel yaitu Eckel, N., “The Income Smoothing Hypothesis Revisited”, Juni, 1981.dan juga saya ingin bertanya kepada bapak,, cara mencari ΔI sama ΔS bagaimana caranya pak??, dan cara mencari CVΔI dan CVΔS bagaimana caranya pak???? terimakasih pak

    • Maaf baru balas mbak, sepertinya jurnal-jurnal supporting skripsi saya dulu sudah tidak ada lagi mbak. AI adalah perubahan laba, yaitu selisih laba tahun sekarang dengan tahun lalu, demikian juga AS adalah perubahan pendapatan, yaitu selisih pendapatan tahun sekarang dengan tahun lalu. Nah CVAI adalah koefisien variasi AI dan CVAS adalah koefisien variasi AS, cara menghitungnya banyak tersedia di buku statistika mbak. Semoga membantu.

  13. kristina says:

    malam pak
    saya mau bertanya apakah bapak mempunyai artikel Eckel, N., “The Income Smoothing Hypothesis Revisited”, Juni, 1981. dan saya ingin bertanya pak ΔI dan ΔS bagaimana cara mencarinya pak???

  14. mustafa says:

    tulisan bapak sangat sesuai dengan skripsi saya.
    sumber dari bukunya ada pak, pengarang dan penerbit nya apa??

  15. cinthya says:

    Selamat malam pak, saya mau nanya. apakah model eckel bisa digunakan untuk melihat apakah tiap tahun perusahaan melakukan perataan laba?atau hanya bisa digunakan untuk memberi label perusahaan perata dan bukan perata laba?jadi misalnya begini pak, saya meneliti 40 perusahaan dr tahun 2011-2014. apakah output indeks eckel-nya bisa berupa 160 rasio indeks eckel atau hanya 40 output untuk melihat perata atau bukan?terima kasih banyak sebelumnya pak.

  16. Asti Angwarmase says:

    Cara menghitung perataan laba tiga tahun gimana caranya kalo manual n kalo exel gimana??
    Ini buat skripsi aku.
    Aku susah dapat referensinya.
    Thank i

    • lani says:

      sy lagi membuat skripsi tentang perataan laba..di penelitian2 terdahulu menggunakan index eckel..tpi rumusnya sy blm terlalu mengerti nilainya diambil darimana…misalnya utk perubahan laba apakah dihitung laba sebelum dan sesudah misalnya thn 2010 dan 2011 kemudian 2011 dan 2012…bisa tolong dijelaskan pak..terima kasih sblmnya

      • **bantusharingjawaban, iya misalnya kita meneliti selama 3 tahun (2012,2013,2014) berarti kita mengambil data net income& net sales di lap.keu dari 2011,2012,2013,2014.. di 2011 hanya sekedar membantu perhitungan untuk 2012. So, netincome 2012-2011 = …. ; 2013-2012=… ; 2014-2013=…. hasil dari selisih tadi baru dirata-ratain.. untuk CV nya kalau hitung di excel pake fx =stdevp

        semoga dapat membantu 🙂

  17. Sari says:

    Saya mau tanya..
    Klo untuk rumus
    Std net income before extraordinary/beginning total Asset dibagi dengan std cash flow operation/beginning tot asset
    Itu termasuk earning smoothing yang mana ya?

  18. wahyudi purnama p says:

    Pak… saya mau tanya pengukuran perataan laba kan dengan indeks ekcel, itu sumbernya dari mana pak. Terima kasih

  19. wahyudi purnama p says:

    Pak… saya mau tanya Pengukuran perataan laba dihitung dengan indeks ekcel, itu sumbernya dimana

  20. widiyanti says:

    Mas saya mau tanya teknik perataan laba ini dilakukan sebelum membuat laporan keuangan. Tapi bagaimana cara manjemen mengetahui tahun sekarang memperoleh laba yang tinggi atu rendah sehingga manajemen melakukan tindakan perataan laba tersebut. Mohon bantuannya.

  21. Sitti Romlag says:

    pak saya mau nanya contoh dari perataan alami (naturally smooth) itu seperti apa ya pak?
    mohon bantuannya, terimakasih pak 🙂

  22. riris marta uli says:

    Pagi bg,saya boleh gak minta referensi bukunya yg bg kutip dri mana aja.soalnya saya dsruh nyari teori n buku2 nya bg.plis tlong di bntu bg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: