Value Relevance

Value Relevance

Oleh: Harry Andrian Simbolon SE., M.Ak., QIA

Informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Jika tidak mempengaruhi keputusan, maka informasi tersebut dikatakan tidak relevan terhadap keputusan yang diambil. Informasi yang relevan akan membantu pemakai membuat prediksi tentang hasil akhir dari kejadian masa lalu, masa kini, dan masa depan; yaitu, memiliki nilai prediktif. Informasi yang relevan juga membantu pemakai menjustifikasi atau mengoreksi ekspektasi atau harapan masa lalu; yaitu, memiliki nilai umpan balik. Agar relevan, informasi juga harus tersedia kepada pengambil keputusan sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitas untuk mempengaruhi keputusan yang diambil (Kieso, 2002).

Komponen penting dalam laporan keuangan yang seringkali dijadikan sebagai alat untuk menginformasikan kinerja perusahaan adalah laba dan nilai buku. Laba memiliki nilai relevansi bila secara statistik berhubungan dengan harga saham: penurunan dan peningkatan laba berhubungan dengan penurunan atau kenaikan harga saham. Demikian halnya dengan nilai buku, relevansi nilai buku berasal dari perannya sebagai suatu proksi untuk nilai adaptasi dan nilai penolakan (Burgstahler dan Dichev, 1997 dalam Hadri Kusuma, 2006).

Belakangan ini muncul klaim yang menyatakan bahwa informasi akuntansi yang diperoleh dari laporan keuangan telah kehilangan sebagian relevansinya bagi investor yang diakibatkan oleh perubahan besar-besaran dalam perekonomian, yaitu dari perekonomian industrial ke perekonomian berteknologi tinggi dan berorientasi jasa (Francis dan Schipper, 1999). Kegunaan informasi akuntansi khususnya laba, arus kas, dan nilai buku, semakin memburuk karena dampak perubahan operasi perusahaan dan perubahan kondisi perekonomian tidak terefleksi secara cukup dalam sistem pelaporan sekarang (Lev dan Zarowin, 1999). Satu tanda hilangnya sebagian relevansi informasi akuntansi adalah menurunnya value relevance dari tahun ke tahun (Arie Rahayu Hariani, 2006).

Defenisi Value Relevance

Relevansi nilai (value relevance) informasi akuntansi mempunyai arti kemampuan informasi akuntansi untuk menjelaskan nilai perusahaan (Beaver, 1968 dalam Margani Pinasti, 2004). Penelitian mengenai value relevance menjadi penting karena terdapat klaim yang menyatakan bahwa laporan keuangan berbasis kos historis telah kehilangan sebagian besar relevansinya bagi investor yang diakibatkan oleh perubahan besar-besaran dalam perekonomian, yaitu dari perekonomian industrial ke prekonomian berteknologi tinggi dan berorientasi jasa (Francis dan Schipper, 1999). Kegunaan informasi akuntansi, khususnya laba, arus kas dan nilai buku semakin memburuk karena dampak perubahan operasi perusahaan dan perubahan kondisi perekonomian tidak terefleksi secara cukup dalam sistem pelaporan sekarang (Lev dan Zarowin, 1999).

Lev (1999) menyebutkan bahwa relevansi nilai akuntansi dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi. Francis dan Schipper (1999) memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dengan menyebutkan empat kemungkinan interpretasi konstruk relevansi nilai. Pertama, informasi laporan keuangan mempengaruhi harga saham karena mengandung nilai intrinsik saham sehingga berpengaruh pada harga saham. Kedua, informasi laporan keuangan merupakan nilai yang relevan bila mengandung variabel yang dapat digunakan dalam model penilaian atau memprediksi variabel-variabel tersebut. Ketiga, hubungan statistik digunakan untuk mengukur apakah investor benar-benar menggunakan informasi tersebut dalam penetapan harga, sehingga nilai relevan diukur dengan kemampuan informasi laporan keuangan untuk mengubah harga saham karena menyebabkan investor memperbaiki ekspektasinya. Terakhir, relevansi nilai diukur dengan kemampuan informasi laporan keuangan untuk menangkap berbagai macam informasi yang mempengaruhi nilai saham.

Penelitian relevansi nilai dirancang untuk menetapkan manfaat nilai-nilai akuntansi terhadap penilaian ekuitas perusahaan. Relevansi nilai merupakan pelaporan angka-angka akuntansi yang memiliki suatu prediksi berkaitan dengan nilai-nilai pasar ekuitas. Konsep relevansi nilai tidak terlepas dari kriteria relevan dari standar akuntansi keuangan karena jumlah suatu angka akuntansi akan relevan jika jumlah yang disajikan merefleksikan informasi-informasi yang relevan dengan penilaian suatu perusahaan (Sekar Mayang Sari, 2004).

Meningkatnya persaingan informasi di pasar modal menyebabkan pentingnya mengetahui relative importance laporan keuangan. Di sinilah letak kegunaan value relevance: menggambarkan kegunaan informasi laporan keuangan bagi investor relatif terhadap seluruh informasi yang digunakan oleh investor pada pasar modal (Lev dan Zarowin, 1999). Juniarti (2005) membandingkan antara laba dan cash flow manakah yang memiliki value relevan, penelitian tersebut membuktikan bahwa pada tahap growth, cash flow lebih memiliki value relevant dibanding laba. Tetapi, untuk tahap mature, laba tidak dapat dibuktikan memiliki value relevant dibanding cash flow.

Beaver (1968) dalam Margani Pinasti (2004) telah memberikan defenisi relevansi nilai sebagai kemampuan menjelaskan (explanatory power) dari informasi akuntansi dalam kaitannya dengan nilai perusahaan. Gu (2002) memberikan defenisi yang tidak jauh berbeda, yaitu relevansi nilai adalah kemampuan menjelaskan (explanatory power) informasi akuntansi terhadap harga saham atau return saham. Dalam perkembangannya, penelitian-penelitian mengenai relevansi nilai memang diarahkan untuk menginvestigasi hubungan empiris antara nilai pasar modal (stock market value) dengan berbagai angka akuntansi, yang dimaksudkan untuk menilai kegunaan angka-angka akuntansi itu dalam penilaian ekuitas.

Pengujian hubungan antara informasi akuntansi dengan nilai saham memerlukan suatu model penilaian. Terdapat dua tipe model penilaian yang umumnya digunakan untuk menginvestigasi hubungan tersebut, yaitu model harga (price model) dan model return (return model). Kedua model tersebut diderivasi dari fondasi teoritis yang sama yaitu yang dikenal sebagai model informasi linier (linier informasi model) yang dikembangkan oleh Ohlson (1995).

Kebanyakan penelitian mengenai value relevance informasi akuntansi menggunakan R2 dari model harga sebagai pengukur relevansi nilai (Collins et al., 1997; Francis dan Schipper, 1999; Lev dan Zarowin, 1999; Ely dan Waymire, 1999). Hal ini disebabkan karena R2 merupakan pengukur explanatory power dari variabel independen dalam suatu regresi linier. Jadi, secara intuitif, R2 tampak merupakan pengukur yang baik dari value relevance.

Gu (2002) dalam Margani Pinasti (2004) menunjukkan bahwa R2 memberikan suatu ukuran explanatory power dari suatu model ekonomik yang bersifat spesifik untuk suatu sample. Perbedaan R2 antara dua sample yang berbeda dapat terjadi walaupun hubungan ekonomis yang mendasari kedua sampel tersebut identik. Gu (2002) mengusulkan pengukur alternatif bagi value relevance, yaitu dispersi residual. Gu menjelaskan bahwa dalam pengukuran value relevance informasi akuntansi dengan menggunakan suatu model penilaian, variansi residual atau deviasi standar residual dari model tersebut menunjukkan dispersi dari komponen-komponen harga atau return yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel-variabel akuntansi.

Mengukur Value Relevance

Pengujian hubungan antara informasi akuntansi dengan nilai saham memerlukan suatu model penilaian. Terdapat dua tipe model penilaian yang umumnya digunakan untuk menginvestigasi hubungan tersebut, yaitu model harga (price model) dan model return (return model)). Kedua model tersebut diderivasi dari fondasi teoritis yang sama yaitu yang dikenal sebagai model informasi linier (linier information model) yang dikembangkan oleh Ohlson (1995). Brown et al. (1999) dan Ota (2001) dalam (Margani Pinasti, 2004) menunjukkan adanya masalah scale effect dalam model harga, keduanya memberikan usulan pemecahan terhadap masalah scale effects ini dengan cara menggunakan model return atau menggunakan Pt-1 sebagai deflator dalam model harga, Berkaitan dengan time series, Brown et al. (1999) menyarankan perlunya mengontrol koefisien variasi (coefisien of variation) scale factor pada saat menguji trend R2 dari regresi model harga.

Value relevance informasi akuntansi sering diukur dengan koefisien determinasi, R2, dari price regression model yang disusun berdasarkan hubungan nilai pasar dan variabel akuntansi dalam model Ohlson. R2 merupakan pengukur relevansi nilai yang banyak digunakan dalam penelitian-penelitian terdahulu (Margani Pinasti, 2004). Price regression model model Ohlson yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi dengan menambahkan variabel cashflow untuk semakin memperjelas faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham. Menurut Burgstahler dan Dichev (1997) dalam Juniarti (2005) nilai perusahaan tersebut (value of firm) berkaitan erat dengan model yang secara umum menyatakan bahwa nilai pasar ekuitas (market value equity) suatu perusahaan pada satu tahun tertentu merupakan fungsi linear dari recognize net assets, selain net income wakil potensial recognize net assets adalah cash flow.

Alasan pengunaan model ini untuk mengantisipasi banyaknya distorsi yang terjadi jika menggunakan model Ball & Brown, seperti sulitnya menentukan tanggal peristiwa dengan tepat serta banyaknya confounding effect yang tidak mungkin dapat diisolasi seluruhnya (Frankel dan Lee, 1998 dan Lee dkk, 1999 dalam Sekar Mayang Sari, 2004).

Advertisements

About akuntansibisnis
Me

6 Responses to Value Relevance

  1. imamprakoso says:

    Great, inspiratif buat skripsi. bookmark ahh.
    thansx yaa

  2. ajeng says:

    Hallo Bapak..
    Saya sedang menguji pengaruh pembagian dividen terhadap kualitas lab.. Kualitas laba diukur dengan mengukur value relevance.. Saya punya 5tahun data.. Namun saya tdak mengerti me regresinya.. Untuk mendapatkan nilai adj r square,kita perlu me regresi model valuue relevance tahun 1- tahun 5? Kemudian nilainya tersebut saya masukkan sebagai nilai kualitas laba dalam model regresi sy? Tapi adj r square itu mewakili tahun berapa ya pak? Karena saya punya variabel kontrol dan variabel independen (pembagian dividen..

  3. Faisal Al-Rasyid says:

    Halo pak, saya sedang bingung dalam mengukur relevansi nilai laba dan nilai buku dengan menggunakan model chow test. Apakah bapak tau bagaimana menentukan nilai konstanta nya berdasarkan rumus model chow test tersebut? Mohon tanggapannya pak agar dapat membantu saya dalam menyelesaikan skripsi saya

  4. Eka Wahyu Wulandari says:

    assalamu’alaikum
    pak mau tanya kalo cari buku tentang adopsi ifrs tentang informasi akuntansi atau literaturnya dimana yaa ? terimakasih

    • Mbak Eka, buku tentang adopsi IFRS memang belum banyak, referensi adopsi lebih banyak diinformasikan di web IAI. tetapi kalau teori IFRS nya banyak kok mbak. Ada beberapa yang sudah saya baca seperti karangan Bu Ersa Triwahyuni yang saya rasa cukup bagus, namun stocknya rata-rata habis di beberapa toko buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: