Accounting is Nothing

Oleh: Harry Andrian Simbolon, SE., M.Ak., QIA

Dalam suatu kesempatan bimbingan thesis dengan dosen pembimbing saya, alangkah terkejutnya saya mendengar pernyataannya “accounting is nothing”. Karena keingintahuan, saya berusaha mengorek lebih banyak hal  tentang pernyataan tersebut. Setelah saya tanya, ternyata dosen saya itu mengutip pernyataan tersebut dari dosen S3-nya di Universitas Katolik Leuven Belgia. Dalam tulisan singkat ini, akan saya paparkan mengapa pernyataan itu bisa keluar.

Topik thesis S2 saya adalah mengenai value relevance, yang intinya bagaimana relevannya suatu nilai dalam  mengukur kinerja perusahaan. Disitu saya paparkan teori-teori dasar akuntansi, cara mengukur kinerja keuangan, dan dalil-dalil teori yang lain. Draft proposal thesis yang sudah saya persiapkan dengan matang tersebut memang sengaja saya buat unik dari penelitian-penelitian yang sudah ada, dengan harapan dapat memberikan kesan khusus bagi pendidikan Master saya ini. Tiba-tiba saja setelah mendengar pernyataan dosen pembimbing saya tersebut, seperti disambar petir saja, pikirku proposal ini pasti ditolak atau paling minim dirombak habis. Tapi syukurnya argumentasi saya cukup kuat untuk mempertahankan proposal ini meski ada sedikit modifikasi.

Pergeseran dunia bisnis yang lebih mengandalkan data-data pasar di banding data-data historis, membuat angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan menjadi tidak handal lagi, laporan keuangan tidak dapat meng-capture kondisi keuangan saat ini dalam angka-angka yang disajikannya karena angka-angka tersebut merupakan refleksi dari masa lalu. Begitu user laporan keuangan menggunakan angka tersebut, user tersebut juga harus mengkalkulasi efek bias yang disajikan angka tersebut.  Inilah mengapa disebut akuntansi tidak berarti apa-apa (accounting is nothing).

Pergeseran ini membuat para pakar akuntansi di seluruh penjuru dunia mulai memikirkan jalan keluar atas masalah ini, buat apa ada laporan keuangan yang dihasilkan dari aktifitas accounting tetapi pada akhirnya laporan keuangan tersebut tidak dapat berbicara dengan tepat.

Dimulai dari konvensi akuntansi internasional yang sering membicarakan harmonisasi akuntansi antar Negara diseluruh dunia, mulai terpikir untuk memformulasikan standar acuan yang tepat untuk merubah mindset akuntansi ini. Eropalah yang menjadi pelopornya, melalui International Financial Reporting Standard (IFRS) yang saat ini telah menjadi acuan standar akuntansi di seluruh dunia. Didalam IFRS tersebut terlihat dengan jelas bagaimana akuntansi berubah dari historical value menjadi fair value (yang merupakan refleksi dari market value).

Sebagai contoh, misalnya tanah yang selama ini dinilai berdasarkan harga perolehan, di buku perusahaan dicatat sebesar 1 miliar, mungkin saja jika menggunakan harga pasar harganya bisa menjadi 2 miliar saat ini. Jadi sangat tidak tepat dalam mengukur kinerja jika menggunakan return on aset (ROA) berdasarkan harga perolehan tersebut. Contoh lainnya dalam memperoleh pinjaman sebesar 100 juta, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya untuk mendapat pinjaman tersebut sebesar 6 juta, dalam historical value yang kita kenal selama ini pinjaman tersebut dicatat di buku perusahaan tetap sebesar 100 juta tanpa mempertimbangkan attributable cost tersebut, seharusnya jika di-netting, perusahaan hanya mendapat 94 juta bukan? Pengukuran kinerja solvabilitasnya tentu juga akan berbeda bila menggunakan kedua jenis pengakuan ini.

“Jadi jika anda ingin menjadi akuntan yang handal anda harus ubah pola pikir anda dari masa lalu menjadi masa kini dan masa depan” Demikianlah pesan dosen pembimbing saya dalam bimbingan tersebut. Alangkah lebih tepat bila lebih mengandalakan kondisi pasar daripada sekedar catatan akuntansi, demikian juga dengan mengukur nilai perusahaan (seperti dalam penelitian saya tersebut) alangkah lebih tepat memasukkan variable market value dari pada sekedar variable-variable akuntansi seperti net income, ROA, ROI, RI, DER, dll.

Bila kini akuntansi sudah mengadopsi pola pikir nilai pasar (melalaui IFRS), maka dengan percaya diri saya dapat mengatakan bahwa now accounting is more powerful than before, meskipun kita juga harus tetap memperhatikan variable-variabel pasar lainnya.

Advertisements

About akuntansibisnis
Me

2 Responses to Accounting is Nothing

  1. Syafii Harahap says:

    good writing bro….thanks

  2. Reblogged this on Adjusting Entries Life and commented:
    efek mengejutkan ketika membaca judulnya, tapi sedikit melegakan ketika membaca full hehehe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: