Peran Baru Finance: Dari Financial Controller Menjadi Strategic Influencer

Finance transformationOleh: Harry Andrian Simbolon, SE., M.Ak., QIA., Ak., CA., CPA

Perubahan perekonomian dunia adalah keniscayaan yang harus kita hadapi, kemandirian ekonomi sepertinya hanya tinggal cerita dongeng saja karena terbukti tidak ada satu negarapun yang mampu menghindari kesaling terhubungan dan kesaling tergantungan dengan negara lain, sedikit saja negara super power menggeser indikator ekonominya langsung membuat geger negara lainnya. Oleh karena itu dunia finance juga harus menyesuaikan diri menghadapi gonjang-ganjing perekonomian yang kedepan diprediksi semakin sering terjadi. Paling tidak dalam catatan saya ada lima hal penting yang patut menjadi perhatian kita bersama menghadapi perubahan ini.

Volatilitas nilai tukar membuat banyak perusahaan yang menunjukkan rapor merah di bottom line, padahal sampai pada EBITDA potret perusahaan masih kinclong (positif), nilai tukar sering menjadi momok menakutkan yang selalu dikambing hitamkan. Demikian juga dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan regional sebagai dampak dari economic action yang dilakukan oleh Negara-negara perkasa, alasan inilah yang membuat banyak perusahaan merevisi target pertumbuhannya, mengutak-atik asumsi dan estimasi, dan tentu saja memutar otak demi sekedar bertahan hidup saja. Permasalahan berikutnya adalah sedikitnya talent yang bisa menghadapi kegaduhan ekonomi tersebut dengan resep mujarab yang mumpuni. SDM handal yang bisa menguasai dan mengatasi probelamatika finance seperti barang langka bernilai jual tinggi sekarang ini. Sebagai dampak dari kondisi di atas tentulah menurunnya margin perusahaan, meningkatkan topline tentulah bukan perkara mudah, meskipun memakai jurus dynamic pricing dan granular product costing, efesiensi dan kaizen atau segala macamnya, cara paling gampang tetaplah mengutak atik opex yang pasti akan berdampak pada kualitas produk dan layanan yang ditawarkan perusahaan. Faktor digitalisasi juga mau tidak mau harus didayagunakan agar perusahaan tidak ketinggalan “kereta”, perusahaan harus mampu mengolah dan memanfaatkan teknologi digital untuk kepentingan perusahaan menghadapi perubahan-perubahan tersebut, seperti e-commerce, customer relation management, online reporting, mobile apps, dll harus dikreasikan merespon kebutuhan terkini.

Kelima faktor di atas mau tidak mau harus menjadi fokus para finance saat ini. Peran finance yang dahulu kita kenal sebagai financial controller, yaitu hanya sebagai tukang catat akuntansi dan melaporkannya kepada top management (BoD) dan pemilik (BoC), ditambah permasalahan perpajakan yang rutin setiap bulannya, pemahaman pendek tersebut harus sudah kita tinggalkan. Finance sudah bertransmorfasi jauh dari sekedar urusan-urusan administrasi itu. Bayangkan saja jika nilai tukar tidak dikelola dengan baik, maka kerugian nilai tukar ini lama kelamaan bisa menyebabakan ekuitas negatif bagi perusahaan yang berujung pada kebangkrutan. Demikian juga keahlian mengelola margin yang tidak hanya menjadi domain akuntansi tetapi harus dirumuskan melalui pendekatan matematika dan statistika dan juga sentuhan engineering, membuat para akuntan dan manajer keuangan berpikir ulang jika tetap mengedepankan ego atas disiplin ilmunya.

Kini Eranya Perencanaan dan Analisis

Benar kata orang pintar bahwa rencana yang baik adalah 50 persen dari keberhasilan, ditambah analisis yang baik tentu semakin melengkapi 50 persen lainnya. Kenyataan ini juga yang diaminkan oleh para pelaku bisnis besar saat ini. Divisi Financial Planning and Analysis (FPA) dibentuk dan menjadi andalan dalam meracik rencana strategis dan beraksi sesuai hasil data analytic-nya. Maka tak jarang pula fungsi FPA ini diisi oleh orang-orang yang caliber, visioner dan berpikir strategic.

Pekerjaan back office dan support adalah kenyataan yang harus kita kesampingkan saat ini, data akuntansi historis tentu tidak bisa memberikan mafaat apa-apa jika tidak mendapatkan sentuhan analis, demikian juga dengan fungsi support yang terkesan sebagai kasta kelas dua jika selalu mengikuti maunya core function seperti marketing atau production tanpa memberikan saran dan rekomendasi atas commercial aspect-nya.

Pelaporan keuangan tidak hanya melulu tentang data dan angka, tetapi apa dibalik angka itu, bagaiamana angka itu bisa tercipta, dan tentunya bagaimana bisa memodifikasi angka itu di masa yang akan datang. Disinilah peran para finance saat ini, yaitu bisa memberikan management information yang handal dan terpercaya dalam setiap pengambilan keputusan bisnis.

Menuju Strategic Influencer

Ultimate goal-nya adalah mentransformasi fungsi finance menjadi strategic business partner atau lebih tepatnya sebagai strategic influencer bagi setiap pemangku kepentingan di perusahaan. Di Negara-negara maju peran finance sudah berada disini, karena bisnis memang bermetamorfosis sedemikian rupa, merger & acquisition (M&A) adalah jurus yang selalu “dimainkan” untuk menjaga perfomance perusahaan, ROA dan ROI sudah mulai diabaikan diganti dengan ROCE karena investment adalah darah segar bagi going concern-nya perusahaan. Para talent di bidang finance tidak lagi hanya mengurusi administrasi dan operasional tetapi lebih dari sekedar sebagai consultant yang setiap ucapannya menjadi resep mujarab bagi kemajuan perusahaan.

Pada fase ini setiap keputusan bisnis harus selalu didahului feasibility study dari financial aspect-nya agar keputusan tetap on the right track. Pengaruh fungsi finance diakui menjadi “bahan pokok” dalam menjalankan roda bisnis perusahaan. Contoh sederhananya adalah product differentiation dan pricing, peran analis sangat berarti sekali sebelum menjatuhkan pilihan. Demikian juga dalam memilih target company untuk M&A jangan justru menjadi penyakit kronis dikemudian hari. Pengukuran kinerja manajer business unit menjadi contoh yang lebih spesifik lagi, yaitu bagaimana memformulasikan compensation benefit system tidak lagi berbasis pada traditional KPI namun lebih kepada goal congruence dan strategy alignment.

Di Indonesia memang peran ini masih jauh dari kenyataan, namun bukan berarti kita tingal diam karena iklim bisnis kita rasa belum begitu complex. Asean Economy Community (AEC) yang sudah ada di depan mata (mulai 1 Januari 2016) menjadi tester untuk menguji kesiapan kita. Maukah kita ditelikung oleh para expatriates yang kelak membanjiri Negara kita karena keterlenaan kita? Tentu tidak bukan, oleh karena itu siagakan para talent finance kita sesegera dan se-complex mungkin.

Menyiapkan Talent Finance

Dalam suatu workshop finance directorate di perusahaan saya, saya melihat bagaiamana intensnya perhatian CFO dan para Vice President atas pengembangan SDM. Mereka menyadari bahwa peran baru finance tersebut sudah di depan mata, tinggal perkara mental dan kesiapan saja, oleh karena itu talent-talent handal harus disiapkan untuk menghadapai bisnis yang semakin volatile ini. Pendidikan master bukan lagi menjadi tumpuan harapan, tetapi bagaimana memperlengkapi para karyawan menjadi siap pakai dengan sertifikasi profesional yang diakui secara global seperti CFA, CPA, CISA, CMA, appraisal, CFE, international procurement, CRM, dll. Mudah-mudahan hal ini juga menjadi perhatian para senior leader di perusahaan-perusahaan Indonesia lainnya.

Harus kita pahami bersama bahwa kenyataannya saat ini semua perusahaan berperang dalam medan pertempuran bisnis yang sama karena dunia sekarang ini seperti desa kecil saja, demikian juga dengan perangkat-perangkat bisnis yang digunakan hampir semuanya sama, tools-nya sama, teknologinya bisa diadopsi, resepnya bisa dicontek, vendornya sama, dll. Satu-satunya hal yang membedakannya adalah talent pekerjanya, inovasi dan ide-ide bisnis yang ditelurkan oleh para talent sangat menentukan keberlangsungan perusahaan di masa yang akan datang. Untuk itulah talent development harus terus diperhatikan.

Saat ini kelas Certified Financial Analyst (CFA) review banyak diikuti peserta yang background pendidikannya mayoritas dari non accounting and finance. Begitu juga ketika mengikuti S2 dahulu, ada adik kelas saya yang baru wisuda dari Teknik Elektro ITB langsung melanjut ke Magister Akuntansi Unpad karena terinspirasi para seniornya yang banyak terjun sebagai analis. Rekan-rekan di kantor saya banyak memilih program MBA, malah ada yang memilih MPA (master of professional accounting), ketika diberikan kebebasan memilih jurusan pada program beasiswa S2 overseas dari perusahaan, padahal mayoritas dari mereka adalah engineer. Hal ini membuktikan bahwa sekat-sekat latar belakang pendidikan semakin tidak ada batasannya lagi sekarang ini. Para talent yang berlatar belakang S1 akuntansi dan manajemen keuangan harus siap menghadapi kenyataan ini dengan persiapan diri yang matang, kedepan semakin banyak anak-anak eksakta yang merambah dunia kita ini. Pun demikian sebaliknya, kita harus berbangga juga bahwa para talent finance yang sudah terbukti kaliberasinya “dipakai” mengisi posisi-posisi strategic di lini terdepan pencari revenue bagi perusahaan.

Transformasi peran itu sudah di depan mata, sudah siapkah kita menghadapinya?

Advertisements

About akuntansibisnis
Me

2 Responses to Peran Baru Finance: Dari Financial Controller Menjadi Strategic Influencer

  1. Ahmad Suroso says:

    Great, tulisan yang sangat visioner. Semoga para CFO banyak yang membaca tulisan ini. Sehingga transformasi itu juga terjadi serempak di seluruh perusahaan Indonesia.

  2. indra affandi hsb says:

    mantap bang. semoga para pekerja keuangan di indonesia memahami dan mau menerapkan apa yang abang tulis ini. bila perlu diadakan lokakarya, sosialisasi dan training bukan hanya utk di tempat perusahaan bekerja tetapi disebar ke seluruh pelosok indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: