Financial Planning and Analysis dan Tantangan Akuntan Perusahaan

evolution-of-finance-k12352-01Oleh: Harry Andrian Simbolon., SE., MAk., QIA., Ak., CA., CPA., CMA., CIBA

Banyak perubahan yang telah terjadi dalam profesi akuntan di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini, terlebih bagi akuntan perusahaan yang rutin menghasilkan laporan keuangan setiap bulannya. Dampak terbesar yang dirasakan bukanlah karena perubahan standar akuntansi yang mengikuti standar internasional, tetapi justru digitalisasi yang tidak dapat dihindarkan lagi. Setidaknya ada dua tantangan besar yang dihadapi akuntan perusahaan saat ini: pertama, kesiapan menghadapi digitalisasi fungsi keuangan tersebut; dan kedua, disiplin ilmu lain yang semakin mendominasi.

Perkembangan dunia digital dengan segala kemampuannya mengolah data dan informasi memungkinkan informasi dihasilkan secara online kapanpun dan dimanapun, bahkan sebelum terjadinya informasi sudah bisa diprediksi dengan baik. Inilah yang disebut dengan data analytic atau data science. Dalam lingkungan perusahaan, output dari proses ini adalah proforma (outlook) yang mampu memberikan gambaran kinerja mendekati atau bahkan sama dengan kondisi real-nya nanti. Outlook ini bisa disediakan kapanpun jika pengambil keputusan perusahaan memerlukannya. Bandingkan dengan informasi akuntansi yang tersedianya menunggu selesainya proses tutup buku yang sangat rumit.

Data analytic ini kemudian diselaraskan dengan fungsi budgeting. Dengan menggunakan teknik pemodelan, parameter yang digunakan dalam forecasting digunakan pula dalam menyusun budget. Apapun metode budgeting-nya apakah itu zero based budgeting, flexible budgeting, atau yang lainnya, budget perusahaan yang dihasilkan menjadi lebih lebih presisi.

Kenyataannya informasi akuntansi historis justru digunakan hanya sebagai feedback dan control atas proses budgeting dan forecasting tersebut. Bahkan tak jarang pula accounting justru mengikuti outlook yang sudah ditetapkan manajemen. Jikapun terjadi perbedaan data akuntansi historis hanya digunakan sebatas evaluasi dan penyempurnaan parameter dalam proses forecasting dan budgeting berikutnya.

Kini Eranya Perencanaan dan Analisis

Trend yang terjadi saat ini di banyak perusahaan dalam merespon digitalisasi tersebut adalah dibentuknya fungsi Financial Planning and Analysis (FPA) yang merupakan empowering dari fungsi akuntansi manajemen dan penggabungan dari fungsi budgeting, costing, dan enterprise reporting. FPA memberikan layanan end to end, mulai dari analisa new product development (NPD), costing/capex profitability (tidak hanya corporate side tetapi juga customer profitability analysis), financial modeling sampai pada integrated reporting. Peran FPA semakin menjelma menjadi andalan dalam meramu rencana strategis dan beraksi sesuai hasil data analytic-nya. Fungsi FPA ini banyak diisi oleh orang-orang yang kaliber, visioner, berpikir strategis, dan kebanyakan mereka bukanlah akuntan.

Data akuntansi historis tentu tidak bisa memberikan mafaat apa-apa jika tidak mendapatkan sentuhan analis. Pelaporan keuangan tidak hanya melulu tentang data dan angka tetapi apa dibalik angka itu, bagaimana angka itu bisa tercipta, dan tentunya bagaimana bisa memodifikasi angka itu di masa yang akan datang. Disinilah seharusnya akuntan berperan, yaitu bagaimana bisa memberikan management information yang handal dan terpercaya dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Inilah peran yang sedang dijalankan FPA saat ini.

Dampak Nyata Bagi Para Akuntan Perusahaan

Pada dasarnya fungsi akuntansi sangat melekat dengan kesisteman yang ada di perusahaan. Sistem informasi akuntansi atau yang lebih dikenal dengan enterprise resource planning digunakan hampir di seluruh fungsi, mulai dari procurement, logistics, general affairs, cost control, budgeting, project management, treasury, taxation, sampai pada accounting and reporting. Karena kompleksnya kesisteman di dalam ERP ini mengakibatkan banyak perusahaan mengandalkan operasionalnya pada pihak ketiga, atau bilapun ditangani sendiri maka dijalankan oleh mereka yang paham tentang kompleksitas kesisteman, dan kebanyakan dari mereka justru berlatar belakang non akuntansi.

Dilain sisi, fungsi FPA semakin memberikan andil besar dan terdepan dalam pengambilan keputusan bisnis perusahaan. Mereka mampu mengolah data (data analytic) hingga dihasilkan output secara tepat waktu dibandingkan menunggu laporan keuangan selesai dihasilkan oleh fungsi akuntansi yang membutuhkan waktu yang relative lama. Dari sisi analyst, analisa mereka lebih handal dan tepat sasaran, bahkan mereka sudah bisa memprediksi dampaknya terhadap laporan keuangan jika satu parameter saja berubah (misalnya competitor merubah harga). Demikian pula dari sisi budgeting. Dibanyak perusahaan modern terkadang fungsi akuntansi tidak bisa berbuat apa-apa jika budget tidak tersedia, sehingga ada kesan bahwa budget is more powerful than accounting.  Dan terakhir dari sisi enterprise reporting, laporan yang disajikan kepada manajemen oleh FPA lebih tepat sasaran dibanding laporan keuangan sesuai standar akuntansi yang sangat kaku.

Fenomena ini tentunya mereduksi peran akuntan. Dari yang sebelumnya terdepan menyediakan informasi menjadi sekedar inputan bagi FPA. Beberapa perusahaan yang telah melakukan transformasi fungsi keuangan malah menempatkan akuntan perusahaan yang melakukan tutup buku setiap bulannya sebagai Centralized Transaction processing (CTP) yang bisa di outsource-kan ke pihak ketiga.

Menyiapkan Talent Accountant

Tantangan bisnis kedepan semakin berat, oleh karena itu dibutuhkan talent-talent akuntan handal untuk menghadapi bisnis yang semakin volatile ini. Pendidikan master bukan lagi menjadi tumpuan harapan, tetapi bagaimana memperlengkapi para akuntan menjadi siap pakai dengan sertifikasi profesional yang diakui secara global seperti CA, CPA, CMA, ACCA, CFA, dll.

Harus kita pahami bersama bahwa kenyataannya saat ini semua perusahaan berperang dalam medan pertempuran bisnis yang sama karena dunia semakin tanpa batas saja, demikian juga dengan perangkat-perangkat bisnis yang digunakan hampir semuanya sama, tools-nya sama, teknologinya bisa diadopsi, resepnya bisa dicontek, vendor-nya sama, dll. Satu-satunya hal yang membedakannya adalah talent pekerjanya, inovasi dan ide-ide bisnis yang ditelurkan oleh para talent sangat menentukan keberlangsungan perusahaan di masa yang akan datang. Untuk itulah talent development harus terus diperhatikan.

Dalam sebuah kelas persiapan Chartered Financial Analyst (CFA), begitu terkejutnya saya takkala mengetahui bahwa sekitar 60% latar belakang pendidikan pesertanya berasal dari non accounting and finance. Begitu juga ketika mengikuti program magister akuntansi dahulu, ada adik kelas saya yang baru wisuda dari Teknik Elektro ITB langsung melanjut ke Magister Akuntansi Unpad karena terinspirasi para seniornya yang banyak terjun sebagai analis. Rekan-rekan di kantor saya banyak memilih program MBA, malah ada yang memilih MPA (master of professional accounting), ketika diberikan kebebasan memilih program beasiswa S2 overseas dari perusahaan, padahal mereka adalah engineer. Kenyataannya lagi IAI juga telah membuka keran bagi non-akuntansi untuk menjadi akuntan profesional. Hal ini membuktikan bahwa sekat-sekat latar belakang pendidikan semakin tidak ada batasannya lagi sekarang ini. Para talent yang berlatar belakang S1 akuntansi harus siap menghadapi kenyataan ini dengan persiapan diri karena kedepan semakin banyak talent berlatar belakang eksakta yang merambah dunia kita ini.

Akan lebih tepat jika para akuntan yang telah menguasai bisnis proses perusahaan yang melakukan peran FPA tersebut, namun apakah kita mampu dan memiliki komptensi? Soft skill memang penting, namun hard skill yang menjadi darahnya akuntan juga jangan sampai diabaikan. Kemampuan logical thinking, computer, dan bahasa Ingris adalah kemampuan dasar yang tidak bisa ditawar lagi oleh para akuntan. Bagaimanapun peran akuntan perusahaan tidak akan bisa hilang. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana akuntan bisa memberikan insight yang tepat secara keuangan kepada seluruh stakeholder. Hanya dengan demikian para akuntan tetap bisa berperan dan berkontribusi dalam kemajuan perusahaan.

Tantangan kedepan pasti akan semakin berat, sudah siapkah akuntan menghadapinya?

Advertisements

About akuntansibisnis
Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: