Six Sigma

Dalam era globalisasi ini, persaingan antar perusahaan semakin ketat. Setiap perusahaan mencoba berbagai macam cara untuk dapat bertahan dan unggul dalam persaingan tersebut. Dimana kepuasan konsumen menjadi tujuan utama dari segala upaya perusahaan. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapai kepuasan konsumen secara maksimal yaitu dengan meningkatkan kualitas dari produk dan jasa yang dihasilkan serta produk dan jasa tersebut dapat menjawab kebutuhan konsumen saat ini. Beberapa perusahaan khususnya di Amerika Serikat mulai melakukan revolusi sistem manajemen kualitas dengan mengikuti prinsip-prinsip Six Sigma.

Six Sigma adalah strategi bisnis yang menitikberatkan focus kegiatan atau proses usaha pada penciptaan produk dan jasa yang “mendekati” sempurna. Istilah sigma digunakan karena berasal dari kaidah statistik yang mengukur seberapa jauh sebuah proses penciptaan produk dan jasa menyimpang dari sempurna. Semakin kecil sigma, maka semakin menyimpang dari sempurna. Gagasan yang melandasi Six Sigma adalah bahwa bila kita mengukur berapa banyak “kesalahan” (defect) yang  dipunyai dalam sebuah proses, secara sistematis dapat direncanakan bagaimana dapat mengeliminir dan membawanya mendekati “zero defect”. Semakin besar sigma, maka semakin mendekati sempurna hasil yang kita dapatkan dari proses usaha.

Tiga Komponen Utama dalam Six Sigma

Tujuan umum dari Six Sigma adalah “mengurangi tingkat kesalahan dan waktu siklus” yang dilakukan secara terus menerus. Dalam filosofi Six Sigma ada tiga komponen utama yang menjadi pusat perhatian dan semua kegiatan usaha difokuskan pada komponen-komponen ini. Tiga komponen tersebut adalah: pelanggan (customer), proses usaha (business process) dan karyawan (employee). Ketiga komponen ini menjadi satu kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisahkan. Penekanan hanya kepada pelanggan tanpa memperhatikan proses usaha yang stabil dan kepuasan karyawan, akan menyebabkan pemenuhan kebutuhan pelanggan yang bersifat sementara (temporary fulfillment). Penekanan hanya pada efisiensi proses usaha tanpa memperhatikan kepuasan pelanggan dan karyawan akan menimbulkan efisiensi tanpa dibarengi dengan efektivitas sehingga kelanggengan usaha tidak dapat dipertahankan. Perhatian hanya pada kepuasan karyawan tanpa perbaikan proses usaha dan peningkatan kepuasan pelanggan akan menyebabkan kebanggaan diri yang berlebih dan kehilangan focus kepada pelanggan. Ketiga komponen tersebut harus dijaga keseimbangannya.

Dalam filosofi Six Sigma faktor kepuasan pemilik dan juga lingkungan menjadi faktor yang dipertimbangkan juga. Bila pelanggan dipuaskan dengan proses usaha yang efisien dan efektif disertai kepuasan karyawan dalam menjalankan proses usaha, pada akhirnya bisnis tersebut akan berkembang, profit meningkat dan pemilik pun menjadi senang.

Komitmen Manajemen Puncak

Syarat mutlak keberhasilan implementasi Six Sigma adalah komitmen dari manajemen puncak (CEO) mengenai visi Six Sigma. Tanpa ada komitmen dari manajemen puncak, program Six Sigma akan menjadi program sia-sia yang tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi perusahaan.Larry Bossidi dari Allied Signal, Jack Welch dari GE, Glen Barton dari Caterpilar, John Reed dari Citigroup memiliki komitmen yang tinggi atas implementasi Six Sigma di perusahaan mereka masing-masing. Mereka menunjuk seorang Direktur dibawahnya langsung bertindak sebagai full time Six Sigma Develpoment Director atau Quality Director. Direktur inilah yang kemudian langsung memimpin inisiatif implementasi Six Sigma diseluruh jajaran staff dan manager di perusahaannya masing-masing.

Program peningkatan kualitas Six Sigma harus melibatkan manajemen tingkat atas sampai tingkat bawah secara intensif. Program ini akan ditangani langsung oleh Champion dan Black Belt sebagai pemimpin tim manajemen proyek. Keterlibatan manajemen sangat penting, karena survei menunjukkan bahwa sekitar 68% tingkat kegagalan proses dapat dikendalikan oleh manajemen, dan hanya sekitar 32% yang dapat dikendalikan oleh pekerja.

Integrasi Program Six Sigma dengan Balance Scorecard

Program Six Sigma merupakan sistem manajemen kualitas yang memiliki target kinerja dramatik 3,4 DPMO (Defect Per Million Opportunities) atau tingkat kapabilitas proses 6-sigma melalui implementasi program peningkatan terus menerus (continuous improvement programs). Balance Scorecard juga merupakan sistem manajemen terintegrasi, dimana pencapaian target kinerja dilakukan melalui program peningkatan terus menerus. Dengan demikian, kedua sistem manajemen Six Sigma dan Balance Scorecard, dapat diintegrasikan menjadi satu sistem manajemen kinerja yang terintegrasi.

Program peningkatan kinerja Six Sigma mempunyai tahap DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Tahap DEFINE (D) dikendalikan oleh kebutuhan stakeholders (pelanggan, pemegang saham, manajemen, karyawan, dan pihak lain yang berkepentingan)dan oleh ukuran-ukuran karakteristik kualitas (CTQ) kunci yang mengendalikan dan mempengaruhi kepuasan total stakeholders. Tahap ini merupakan tahap pendefinisian dan penetapan pendekatan proses yang semuanya sesuai dengan konsep dan metodologi sistem manajemen kinerja Balance Scorecard. Hasil – hasil dari setiap proyek Six Sigma itu disebarkluaskan dan disatandardisasikan yang dalam termonoligi Six Sigma disebtu: “dikendalikan/terkontrol (controlled)”. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan strategi dan penyebarluasan strategi serta melalui manajemen proses dalam sistem manajemen kinerja Balance Scorecard. Dengan demikian, sistem manajemen kinerja Balance Scorecard memungkinkan organisasi untuk mempertahankan praktek kerja terbaik yang diperoleh dari setiap proyek Six Sigma dalam upaya meningkatkan kualitas terus menerus menuju target kegagalan nol dan kapabilitas proses minimum 6-sigma.

Ukuran dan peningkatan kinerja dalam sistem manajemen Balance Scorecard dapat diakomodasikan oleh tahap-tahap program Six Sigma, yaitu:  Measure (M), Analyze(A), dan Improve (I). Selanjutnya, tanggung jawab dan dukungan  jangka panjang manajemen terhadap peningkatan kinerja dalam perspektif  pembelajaran dan pertumbuhan, yang akan meningkatkan  kinerja dalam perspektif  proses bisnis internal, menjadi landasan utama untuk mendukung dan mempertahankan peningkatan kinerja dalam perspektif pelanggan dan perspektif financial. Dengan demikian, tampak bahwa sistem manajemen kinerja Balance Scorecard dapat menjadi landasan utama untuk mendukung dan mempertahankan program Six Sigma. Telah terbukti bahwa integrasi program Six Sigma ke dalam sistem manajemen kinerja Balance Scorecard merupakan satu kesatuan manajemen sistem yang andal dan akan menjadi sangat popoler di masa mendatang.

Advertisements

About akuntansibisnis
Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: